Senin, 10 Desember 2018 | 19.40 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>CIA sebut putra mahkota Saudi terlibat pembunuhan Khashoggi

CIA sebut putra mahkota Saudi terlibat pembunuhan Khashoggi

Minggu, 18 November 2018 - 15:28 WIB

IMG-4922

Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman.

JAKARTA, kini.co.id – BADAN Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) menyimpulkan adanya keterlibatan Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, dalam kasus kematian jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu dilaporkan media lokasl AS, mengutip sumber yang dekat dengan penulusuran tersebut.

Penilaian AS bertentangan dengan kesimpulan Kejaksaan Saudi sebelumnya, yang membebaskan Putra Mahkota dari dugaan pembunuhan keji yang terjadi di Istanbul, Turki. Akan tetapi, Washington Post yang gencar menyoroti kasus tersebut, mengungkapkan temuan CIA bahwa 15 orang agen yang diterbangkan dari Saudi, menggunakan pesawat pemerintah. Khashoggi dieksekusi di dalam gedung Konsulat Saudi di Istanbul. Saat dimintai konfirmasi AFP, CIA enggan berkomentar.

Seperti diberitakan, Khashoggi, kolumnis Washington Post, mendatangi gedung konsulat untuk memperoleh dokumen pendukung syarat pernikahan dengan tunangannya di Turki. Saudi yang dengan cepat menepis segala laporan temuan CIA, sebelumnya berulang kali mengubah narasi resmi mengenai kasus pembunuhan pada 2 Oktober lalu.

Awalnya, Saudi mengaku tidak mengetahui keberadaan Khashoggi. Namun kemudian, pemerintah Saudi menyatakan sang jurnalis tewas terbunuh, setelah terlibat pertengkaran sengit.

Dalam laporan teranyar yang diberikan Kejaksaan Saudi pada Kamis lalu, tim beranggotakan 15 orang semula dibentuk untuk membawa Khashoggi kembali pulang ke Saudi dengan cara persuasi. Akan tetapi, malah berakhir dengan pembunuhan di mana jasad Khashoggi telah dimutilasi.

Lebih lanjut, Washington Post memaparkan penyelidikan CIA melalui beberapa sumber intelijen, yang mengungkapkan panggilan telepon antara saudara laki-laki Putra Mahkota, yakni Duta Besar Saudi untuk AS, dan Khashoggi. Duta Besar diketahui memberikan pernyataan kepada Khashoggi bahwa dirinya aman memasuki gedung konsulat. Sekaligus, dapat memperoleh surat yang dibutuhkan.

Terhadap temuan tersebut, juru bicara Kedutaan Saudi menegaskan Duta Besar Khalid bin Salman tidak pernah membahas apapun dengan Khashoggi, khususnya yang berkaitan dengan kepergian ke Turki.

“Duta besar Pangeran Khalid bin Salman tidak pernah melakukan percakapan telepon dengannya (Khashoggi). Klaim dalam penilaian yang diakui CIA itu salah,” bunyi pernyataan resmi kedutaan melalui akun Twitter.

CIA, sebagaimana dilaporkan Washington Post, juga menggarisbawahi peran Putra Mahkota sebagai penguasa de facto di Arab Saudi, dalam merestui penugasan.

“Peranannya adalah tidak mungkin hal ini terjadi tanpa dia sadari atau terlibat,” tulis Washington Post mengutip pengakuan seorang pejabat terkait. Sumber itu menyebut Putra Mahkota sebagai teknokrat yang baik, namun sulit diprediksi. Bisa dikatakan dia kurang memahami ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan.

Di lain sisi, The New York Times (NYT) memberitakan temuan CIA berdasarkan adanya panggilan telepon dari kelompok pembunuh kepada salah satu ajudan senior Putra Mahkota. Namun, harian itu menyebut persepsi sejauh ini menunjukkan Putra Mahkota berupaya memanggil Khashoggi kembali ke Arab Saudi.

Belum ada dugaan kuat bahwa panggilan tersebut bertujuan untuk menghabisi nyawa Khashoggi. NYT yang juga mengutip pejabat terkait, memaparkan intelijen AS dan Turki belum mengantongi bukti yang menghubungkan keterkaitan langsung antara Putra Mahkota dan kasus pembunuhan sang jurnalis.

Bagaimanapun kesimpulan CIA mengancam prospek hubungan AS dengan sekutu utamanya, Saudi, yang berusaha mengakhiri pembicaraan mengenai kasus pembunuhan. Serta menepis seruan penyelidikan internasional.

Pada kamis lalu, Kementerian Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 17 warga Saudi karena diduga berperan dalam pembunuhan Khashoggi di Turki. Di antaranya termasuk pembantu utama Putra Mahkota.

Banyak pihak menduga langkah itu merupakan upaya terkoordinasi Washington dengan Riyadh, guna mencegah ancaman tindakan lebih keras dari Kongres AS. Apalagi, Presiden AS Donald Trump kerap menghindar untuk membuat pernyataan langsung yang menyalahkan Putra Mahkota. Namun saat bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat lalu, dia mengamini bahwa kasus Khashoggi tidak boleh ditutup-tutupi.

Editor: Emerson

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Unik - Jumat, 7 Desember 2018 - 22:32 WIB

Remaja bisa dihukum mati di Sudan Selatan

PRAKTIK hukuman mati di Sudan Selatan ternyata juga diterapkan kepada remaja. Menurut lembaga pemantau hak asasi manusia Amnesty International, hukuman ...
Peristiwa - Kamis, 6 Desember 2018 - 16:27 WIB

Sampai hari ini sudah 11 mayat ditemukan di Selat Malaka

BANYAKNYA jenazah yang ditemukan di kawasan perairan Selat Malaka, hingga hari ini, Kamis (6/12/2018) sudah mencapai sebelas. “Mayat di (perairan) ...
Politik - Senin, 3 Desember 2018 - 21:47 WIB

PBNU desak Pemerintah RI pulangkan Dubes Saudi

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memprotes keras tweet yang diduga milik Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah ...
Unik - Minggu, 2 Desember 2018 - 22:54 WIB

Jepang membagi-bagi rumah secara gratis

PEMERINTAH Jepang terpaksa membagi-bagi rumah secara gratis kepada warga akibat banyaknya rumah yang ditinggal kosong pemiliknya di negeri Sakura itu. ...
Finance - Kamis, 29 November 2018 - 16:37 WIB

Di China bisa kredit jaminannya foto dan video bugil

DALAM menggunakan fasilitas kredit, biasanya nasabah diminta untuk memberikan jaminan berupa surat berharga hingga jaminan dengan benda yang memiliki nilai ...
Unik - Kamis, 29 November 2018 - 16:06 WIB

Pemerintah Jepang cegah aksi bunuh diri di peron stasiun dengan cara ini

PEMERINTAH Jepang melakukan aksi pencegahan bunuh diri di peron stasiun kereta di sejumlah kota di negara tersebut. Pasalnya, negara itu ...