Kamis, 22 Februari 2018 | 17.44 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Disebut Trump Lubang Kotoran, Afrika Temui Wakil AS

Disebut Trump Lubang Kotoran, Afrika Temui Wakil AS

Reporter : Riki AB. | Senin, 15 Januari 2018 - 11:31 WIB

IMG-4880

Presiden AS, Donald Trump. (Ist)

Johannesburg, kini.co.id – Gara-gara komentar Presiden AS Donald Trump yang kasar, Afrika merasa tersinggung.

Pasalnya, Trump menyebut Afrika sebagai lubang kotoran pada sebuah pernyataannya terkait imigran yang masuk ke Amerika Serikat.

Trump pada 11 Januari mengatakan ia lebih suka menerima lebih banyak imigran dari Norwegia dan lebih sedikit dari Haiti serta “negara lubang kotoran” di Afrika.

Untuk itu, hari ini Departemen Kerja Sama dan Hubungan Internasional Afrika Selatan berencana pada Senin (15/1) bertemu dengan kuasa usaha di Kedutaan Besar AS di Pretoria sehubungan dengan pernyataan mengganggu itu.

Juru Bicara Departemen Kerja Sama dan Hubungan Internasional Afrika Selatan Clayson Monyela mengatakan departemen tersebut akan menyediakan kesempatan kepada Kuasa Usaha (orang kedua yang bertugas untuk menjelaskan pernyataan negara Afrika, bersama dengan Haiti dan El Salvador merupakan ‘lubang kotoran’ tempat asal migran yang datang ke Amerika Serikat.

Ia mengatakan Trump mengeluarkan pernyataan yang kasar dan menyinggung. Afrika dan negara lain juga mengecam ucapan Trump tersebut.

Bahkan Menteri Luar Negeri Botswana Pelonomi Vensionl-Moitoi menggambarkan pernyataan Trump sebagai penghinaan dan rasialis.

“Afrika bersatu di dalam ketegasan martabat rakyatnya di Afrika dan diaspora Afrika. Hubungan antara Afrika Selatan dan Amerika Serikat, antara bagian lain Afrika dan Amerika Serikat harus dilandasi atas pemahaman dan penghormatan timbal-balik,” kata Monyela.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 13:25 WIB

Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya

Diduga untuk menambah pundi-pundi dalam membiayai aksinya, gerilyawan Taliban mengenakan pajak dengan cara mengancam sejumlah kantor-kantor berita di Afghanistan apabila ...
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...