Kamis, 19 April 2018 | 16.45 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Obama Sindir Kebiasaan Nge-Tweet Trump soal Islam

Obama Sindir Kebiasaan Nge-Tweet Trump soal Islam

Reporter : M. Zaki | Sabtu, 2 Desember 2017 - 16:11 WIB

IMG-4779

Doland Trump dan Obama (kininews/ist)

Washington, kini.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memang terkenal keaktifannya di dunia maya khususnya Twitter.

Tak jarang, Trump menuliskan tweet yang berbau provokasi dan menyindir orang lain.

Sikapnya ini pun mengundang kemarahan publik, karena selain ‘marah-marah’, ia pun tak jarang mengubah kebijakan dan menyampaikannya lewat twitter.

Terakhir, cuitan menghasut Trump yang terbaru adalah ketika ia me-retweet video yang diunggah organisasi ekstrem kanan Inggris, Britain First, yang menggambarkan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam.

Kritik meluas karena cuitan tersebut, termasuk teguran dari Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Selain dari PM Inggris, mantan Presiden AS, Barrack Obama juga melontarkan kritik atas kebiasaan Trump mengeluarkan tweet hasutan.

“Jangan katakan hal pertama yang muncul di kepala Anda. Miliki sedikit fungsi edit, pikirkan sebelum Anda berbicara, pikirkan sebelum Anda mencuit (di Twitter),” kata Obama di depan publik di New Delhi, India, menurut Washington Post, Sabtu (2/12).

Sementara juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee mengatakan retweet dari Trump tersebut untuk membantu meningkatkan pembicaraan seputar ancaman yang ditimbulkan oleh ekstremisme.

Trump seringkali menerbitkan pengumuman kebijakan terbarunya di Twitter, yang biasanya dilakukan di pagi hari.

Trump diketahui telah mencuitkan dua kali lebih banyak dibandingkan cuitan Obama.

Namun mantan presiden itu mengaku memiliki keunggulan dalam hal pengikut. Ia memiliki 97,4 juta pengikut sedangkan Trump hanya 43,7 juta.

“Tidak ada yang memiliki pengikut lebih banyak daripada orang yang menggunakannya lebih sering,” kata Obama mengunggulkan dirinya.

Sebelumnya, Obama juga pernah menyinggung soal kebiasaan Trump di twitter. Bahkan Obama menyebut orang yang tidak bisa mengendalikan sebuah akun twitter, takkan bisa memegang kode nuklir.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Lebih dari ratusan orang luka-luka akibat protes di Palestina
Global - Minggu, 10 Desember 2017 - 13:11 WIB

Lebih dari ratusan orang luka-luka akibat protes di Palestina

Bulan Sabit Merah Palestina dalam pernyataan tertulisnya menyebutkan sekitar dua ratus lebih warga Palestina terluka dalam protes terbaru di ...
Israel Lancarkan Serangan Udara ke Gaza, Puluhan Luka-luka
Global - Sabtu, 9 Desember 2017 - 09:25 WIB

Israel Lancarkan Serangan Udara ke Gaza, Puluhan Luka-luka

Setelah keputusan Presiden AS, Donald Trump soal Yerusalem, hububgan Palestina dan Israel semakin buruk.Sejak Jumat (8/12/2017), Israel mulai menggempur Jalur ...
DK PBB Kritik Kecam Donald Trump Terkait Yerusalem
Global - Sabtu, 9 Desember 2017 - 09:04 WIB

DK PBB Kritik Kecam Donald Trump Terkait Yerusalem

Keputusan sepihak Presiden AS Donald Trump yang menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel mendapat kecaman dari PBB.Pasalnya, PBB selama ini mengupayakan ...
Al- Qaidah serukan pengikutnya berjihad terkait status Yerusalem
Global - Jumat, 8 Desember 2017 - 18:20 WIB

Al- Qaidah serukan pengikutnya berjihad terkait status Yerusalem

Keputusan Pesiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berkeras menyatakan Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, mendapat kecaman bukan cuma organisasi ...
Lawan Keputusan Trump, Ini yang Dilakukan Pemerintah Indonesia
Global - Jumat, 8 Desember 2017 - 13:41 WIB

Lawan Keputusan Trump, Ini yang Dilakukan Pemerintah Indonesia

Gelombang protes terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel datang dari berbagai negara di dunia. ...
Eropa tolak pengakuan Trump soal status Yerusalem
Global - Jumat, 8 Desember 2017 - 13:33 WIB

Eropa tolak pengakuan Trump soal status Yerusalem

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal status kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel ditentang banyak pihak. Para pemimpin negara ...