Tuesday, 17 July 2018 | 13.02 WIB
KiniNEWS>Dunia>Politik>Menyusul Inggris juga tolak rencana referendum Kurdi Irak

Menyusul Inggris juga tolak rencana referendum Kurdi Irak

Reporter : Riki AB. | Sunday, 17 September 2017 - 12:01 WIB

IMG-4719

Pendukung Kurdi Irak (KRG) memasang spanduk referendum kemerdekaan Kurdi dari Irak yang akan digelar pada 25 September ini. Foto/REUTERS/Azad Lashkari.

Ankara, kini.co.id – Setelah pemerintah Irak, Turki, AS, Iran, Rusia, Suriah yang menolak rencana referendum Pemerintah Daerah Kurdi Irak (KRG) pada 25 September mendatang.

Sejumlah negara barat yang memiliki kepentingan atas negeri seribu satu malam lainnya juga menolak referendum, kali ini dari pihak Inggris.

Kementrian luar negeri Inggris menyatakan menolak aspirasi pemisahan Kurdi Irak berpisah dari Bagdhdad. Karena dengan referendum yang disuarakan Masoud Barzani, Presiden wilayah Irak Kurdi itu dikhawatirkan akan mempertaruhkan stabilitas wilayah itu.

“Inggris tidak mendukung aspirasi KRG untuk menggelar referendum pada 25 September mendatang,” seperti dilansir Talarabiyah, Sabtu (16/9).

Menurut pihak Inggris referendum berisiko menimbulkan ketegangan baru terutama dalam menghadapi perang melawan Daes atau Islamic State (IS) yang menguasai sebagian wilayah Irak.

Masih kata pihak Kemenlu Inggris, justru mendesak agar Masoud Barzani melakukan perundingan baru antara pihak Erbil dengan Baghdad.

Presiden Wilayah Kurdi Irak, Massoud Barzani pada Kamis (14/9) lalu menyebut akan mempertimbangkan tawaran daan saran dari sejumlah negara itu untuk melakukan referendum pada 25 September nanti.

Berbeda dengan Israel, yang menyatakan dukungannya kepada Kurdi Irak untuk merdeka secara mutlak dari Baghdad. Hal itu disampaikan pihak Telaviv melalui Menteri Kehakiman Ayelet Shaked pada konferensi kontra terorisme baru-baru ini.

“Israel dan negara-negara Barat memiliki kepentingan besar dalam pembentukan negara Kurdistan,” kata Shaked, dalam naskah sambutannya, tanpa menjelaskan kepentingan besar yang dimaksud.

”Saya pikir sudah waktunya bagi AS untuk mendukung prosesnya,” lanjut Shaked, seperti dikutip dari Haaretz, Selasa (12/9).

Pemerintah AS, bersama dengan Rusia, Turki, Iran, Irak dan Suriah, menentang referendum kemerdekaan Kurdi. Alasannya, bisa menimbulkan keguncangan baru di wilayah Timur Tengah.[]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Global - Sunday, 10 December 2017 - 13:11 WIB

Lebih dari ratusan orang luka-luka akibat protes di Palestina

Bulan Sabit Merah Palestina dalam pernyataan tertulisnya menyebutkan sekitar dua ratus lebih warga Palestina terluka dalam protes terbaru di ...
Global - Saturday, 9 December 2017 - 09:25 WIB

Israel Lancarkan Serangan Udara ke Gaza, Puluhan Luka-luka

Setelah keputusan Presiden AS, Donald Trump soal Yerusalem, hububgan Palestina dan Israel semakin buruk.Sejak Jumat (8/12/2017), Israel mulai menggempur Jalur ...
Global - Saturday, 9 December 2017 - 09:04 WIB

DK PBB Kritik Kecam Donald Trump Terkait Yerusalem

Keputusan sepihak Presiden AS Donald Trump yang menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel mendapat kecaman dari PBB.Pasalnya, PBB selama ini mengupayakan ...
Global - Friday, 8 December 2017 - 18:20 WIB

Al- Qaidah serukan pengikutnya berjihad terkait status Yerusalem

Keputusan Pesiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berkeras menyatakan Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, mendapat kecaman bukan cuma organisasi ...
Global - Friday, 8 December 2017 - 13:41 WIB

Lawan Keputusan Trump, Ini yang Dilakukan Pemerintah Indonesia

Gelombang protes terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel datang dari berbagai negara di dunia. ...
Global - Friday, 8 December 2017 - 13:33 WIB

Eropa tolak pengakuan Trump soal status Yerusalem

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal status kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel ditentang banyak pihak. Para pemimpin negara ...
Place your ads here...