Minggu, 21 Oktober 2018 | 20.00 WIB
KiniNEWS>Dunia>Politik>Menyusul Inggris juga tolak rencana referendum Kurdi Irak

Menyusul Inggris juga tolak rencana referendum Kurdi Irak

Reporter : Riki AB. | Minggu, 17 September 2017 - 12:01 WIB

IMG-4719

Pendukung Kurdi Irak (KRG) memasang spanduk referendum kemerdekaan Kurdi dari Irak yang akan digelar pada 25 September ini. Foto/REUTERS/Azad Lashkari.

Ankara, kini.co.id – Setelah pemerintah Irak, Turki, AS, Iran, Rusia, Suriah yang menolak rencana referendum Pemerintah Daerah Kurdi Irak (KRG) pada 25 September mendatang.

Sejumlah negara barat yang memiliki kepentingan atas negeri seribu satu malam lainnya juga menolak referendum, kali ini dari pihak Inggris.

Kementrian luar negeri Inggris menyatakan menolak aspirasi pemisahan Kurdi Irak berpisah dari Bagdhdad. Karena dengan referendum yang disuarakan Masoud Barzani, Presiden wilayah Irak Kurdi itu dikhawatirkan akan mempertaruhkan stabilitas wilayah itu.

“Inggris tidak mendukung aspirasi KRG untuk menggelar referendum pada 25 September mendatang,” seperti dilansir Talarabiyah, Sabtu (16/9).

Menurut pihak Inggris referendum berisiko menimbulkan ketegangan baru terutama dalam menghadapi perang melawan Daes atau Islamic State (IS) yang menguasai sebagian wilayah Irak.

Masih kata pihak Kemenlu Inggris, justru mendesak agar Masoud Barzani melakukan perundingan baru antara pihak Erbil dengan Baghdad.

Presiden Wilayah Kurdi Irak, Massoud Barzani pada Kamis (14/9) lalu menyebut akan mempertimbangkan tawaran daan saran dari sejumlah negara itu untuk melakukan referendum pada 25 September nanti.

Berbeda dengan Israel, yang menyatakan dukungannya kepada Kurdi Irak untuk merdeka secara mutlak dari Baghdad. Hal itu disampaikan pihak Telaviv melalui Menteri Kehakiman Ayelet Shaked pada konferensi kontra terorisme baru-baru ini.

“Israel dan negara-negara Barat memiliki kepentingan besar dalam pembentukan negara Kurdistan,” kata Shaked, dalam naskah sambutannya, tanpa menjelaskan kepentingan besar yang dimaksud.

”Saya pikir sudah waktunya bagi AS untuk mendukung prosesnya,” lanjut Shaked, seperti dikutip dari Haaretz, Selasa (12/9).

Pemerintah AS, bersama dengan Rusia, Turki, Iran, Irak dan Suriah, menentang referendum kemerdekaan Kurdi. Alasannya, bisa menimbulkan keguncangan baru di wilayah Timur Tengah.[]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Peristiwa - Sabtu, 20 Oktober 2018 - 12:47 WIB

Soal Jurnalis Khashoggi, Raja Salman-Erdogan Berdiskusi Lewat Telpon

erkara pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi membuat Raja Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz turun tangan. Raja Salman pun membahas soal itu ...
Global - Jumat, 19 Oktober 2018 - 18:33 WIB

Jokowi masuk 50 Muslim berpengaruh Dunia

PRESIDEN Joko Widodo masuk dalam daftar 50 muslim paling berpengaruh di dunia. Dalam edisi 2019 daftar Muslim 500 yang dirilis ...
Peristiwa - Kamis, 18 Oktober 2018 - 09:46 WIB

Bawa Gergaji Tulang, Pria Ini Diduga Bunuh dan Mutilasi Jurnalis Jamal Khashoggi

enyelidikan pembunuhan terhadap jurnalis Turki Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi mencapai titik terang.Polisi menetapkan seorang terduga pembunuh yakni dr ...
Peristiwa - Rabu, 17 Oktober 2018 - 17:58 WIB

Menlu AS temui Presiden Turki bahas wartawan hilang

MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Rabu (17/10). ...
Peristiwa - Rabu, 17 Oktober 2018 - 10:00 WIB

Pippa Middleton Melahirkan Anak Pertamanya

Pippa Middleton dan James Matthews kini tengah berbahagia. Pasalnya adik perempuan The Duchess of Cambridge itu baru-baru ini melahirkan anak ...
Peristiwa - Selasa, 16 Oktober 2018 - 11:22 WIB

Bukan Jadi Duta, Selebriti Cina Ini Ditahan Karena Dianggap Hina Lagu Kebangsaan

Seorang selebriti online di Cina ditahan gegara dianggap menghina lagu kebangsaan. Wanita cantik bernama Yang Kaili itu ditahan selama 5 ...