Kamis, 22 Februari 2018 | 08.12 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>Soal Rohingya, Malala Yousafzal: Kita Tidak Boleh Berdiam Diri

Soal Rohingya, Malala Yousafzal: Kita Tidak Boleh Berdiam Diri

Reporter : M. Zaki | Sabtu, 9 September 2017 - 02:00 WIB

IMG-4691

Malala Yousafzai, Peraih nobel perdamaian asal Pakistan. Foto TRT

ISLAMABAD, kini.co.id – Peraih nobel perdamaian asal Pakistan, Malala Yousafzai mengaku prihatin melihat kondisi pengungsi Rohingya di Myanmar.

Ia pun mendesak pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu kyi untuk melakukan dialog untuk memikirkan nasib muslim Rohingya.

“Kita tidak boleh berdiam diri. Jumlah orang yang terusir melebihi ratusan ribu orang,” kata Malala dilansir Talarabiyah, Jumat (8/9).

Malala menyatakan bahawa umat Islam tidak dianggap sebagai warga negara di Myanmar.

“Kita tidak dapat membayangkan saat kewarganegaraan kita, semua hak kita untuk hidup di sebuah negara direbut sepenuhnya. Ini adalah masalah hak asasi manusia, Myanmar harus merespon tegas. Orang-orang terusir dan berhadapan dengan kekerasan,” katanya.

Malala menegaskan bahawa hak pendidikan kanak-kanak Muslim Arakan telah dirampas, umat Muslim kerap berada ditengah-tengah ketakutan.

“Apabila terdapat begitu banyak kekerasan di sekeliling anda, untuk hidup adalah amat sulit. Kita tidak boleh berdiam diri. Jumlah orang yang kehilangan tempat mencapai ratusan ribu,” ungkapnya.

Malala juga menyinggung sikap Menteri Luar dan Presiden Myanmar Aung San Suu Kyi dengan mengatakan.

“Kita perlu bangun dan bertindak segera, dan saya berharap bahwa Suu Kyi juga menanggapinya,” katanya.

Kumpulan penerima Nobel Perdamaian, termasuk Malala mengkritik Suu Kyi dalam surat yang dikirimkan ke Majelis United National Security Council (UNSC) pada bulan Desember.

Dalam surat itu, mereka meminta perhatian perampasan hak asasi manusia umat Islam Arakan di Myanmar, UNSC pun telah memanggil Suu Kyi agar menghentikan “pemusnahan etnis Rohingya.[]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...
Miris, Suami Curi Ginjal Istri untuk Lunasi Utang Mahar
Global - Jumat, 9 Februari 2018 - 11:55 WIB

Miris, Suami Curi Ginjal Istri untuk Lunasi Utang Mahar

Nasib malang menimpa seorang perempuan di India bernama Rita. Ia harus menderita sekian lama karena tak tahu ginjalnya telah dicuri ...