Sabtu, 25 November 2017 | 07.03 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>Soal Rohingya, Malala Yousafzal: Kita Tidak Boleh Berdiam Diri

Soal Rohingya, Malala Yousafzal: Kita Tidak Boleh Berdiam Diri

Reporter : M. Zaki | Sabtu, 9 September 2017 - 02:00 WIB

IMG-4691

Malala Yousafzai, Peraih nobel perdamaian asal Pakistan. Foto TRT

ISLAMABAD, kini.co.id – Peraih nobel perdamaian asal Pakistan, Malala Yousafzai mengaku prihatin melihat kondisi pengungsi Rohingya di Myanmar.

Ia pun mendesak pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu kyi untuk melakukan dialog untuk memikirkan nasib muslim Rohingya.

“Kita tidak boleh berdiam diri. Jumlah orang yang terusir melebihi ratusan ribu orang,” kata Malala dilansir Talarabiyah, Jumat (8/9).

Malala menyatakan bahawa umat Islam tidak dianggap sebagai warga negara di Myanmar.

“Kita tidak dapat membayangkan saat kewarganegaraan kita, semua hak kita untuk hidup di sebuah negara direbut sepenuhnya. Ini adalah masalah hak asasi manusia, Myanmar harus merespon tegas. Orang-orang terusir dan berhadapan dengan kekerasan,” katanya.

Malala menegaskan bahawa hak pendidikan kanak-kanak Muslim Arakan telah dirampas, umat Muslim kerap berada ditengah-tengah ketakutan.

“Apabila terdapat begitu banyak kekerasan di sekeliling anda, untuk hidup adalah amat sulit. Kita tidak boleh berdiam diri. Jumlah orang yang kehilangan tempat mencapai ratusan ribu,” ungkapnya.

Malala juga menyinggung sikap Menteri Luar dan Presiden Myanmar Aung San Suu Kyi dengan mengatakan.

“Kita perlu bangun dan bertindak segera, dan saya berharap bahwa Suu Kyi juga menanggapinya,” katanya.

Kumpulan penerima Nobel Perdamaian, termasuk Malala mengkritik Suu Kyi dalam surat yang dikirimkan ke Majelis United National Security Council (UNSC) pada bulan Desember.

Dalam surat itu, mereka meminta perhatian perampasan hak asasi manusia umat Islam Arakan di Myanmar, UNSC pun telah memanggil Suu Kyi agar menghentikan “pemusnahan etnis Rohingya.[]

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Serangan di Sinai, Dubes: Tak ada WNI yang jadi korban
Peristiwa - Sabtu, 25 November 2017 - 02:16 WIB

Serangan di Sinai, Dubes: Tak ada WNI yang jadi korban

Dipastikan tak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban serangan teror bom di Sinai, Mesir, Jumat (24/11) waktu setempat. ...
Serangan saat Shalat Jumat, 184 oang Tewas di Sinai
Peristiwa - Sabtu, 25 November 2017 - 02:10 WIB

Serangan saat Shalat Jumat, 184 oang Tewas di Sinai

Sedikitnya 184 orang tewas dalam serangan bom dan tembakan di sebuah masjid di Semenanjung Sinai, utara Mesir. Serangan tersebut terjadi ...
Mugabe menolak diasingkan
Politik - Jumat, 24 November 2017 - 01:56 WIB

Mugabe menolak diasingkan

Mantan orang kuat di Zimbabwe, Robert Mugabe, mendapatkan kekebalan (imunitas) dari tuntutan hukum dan jaminan keselamatan sebagai bagian dari kesepakatan ...
Deretan kebaikan Hitler yang tidak banyak orang tau
Peristiwa - Selasa, 21 November 2017 - 08:55 WIB

Deretan kebaikan Hitler yang tidak banyak orang tau

Seumpama dibikin daftar orang yang paling dibenci sepanjang sejarah, maka sosok yang berada di peringkat pertama adalah Hitler. Ya, bagaimana ...
Perempuan Rohingya Diperkosa, HNW Minta Pimpinan Militer Myanmar Dihukum
Global - Jumat, 17 November 2017 - 14:24 WIB

Perempuan Rohingya Diperkosa, HNW Minta Pimpinan Militer Myanmar Dihukum

Lembaga pembela HAM menuding militer Myanmar melakukan kampanye genosida etnis Rohingya.Selain melakukan kekerasan, militer Myanmar juga dituduh melakukan pemerkosaan terhadap ...
Gempa Irak-Iran Renggut 452 Nyawa
Peristiwa - Selasa, 14 November 2017 - 08:27 WIB

Gempa Irak-Iran Renggut 452 Nyawa

Gempa berkekuatan 7,3 skala richter dengan kedalaman yang melanda perbatasan Irak dan Iran, Minggu (12/11/2017) menelan ratusan korban jiwa.Sejauh ini, ...