Kamis, 22 Februari 2018 | 17.48 WIB
KiniNEWS>Dunia>Politik>Islamophobia, Walikota Vanesia : yang Teriak Takbir Akan Tembak Ditempat

Islamophobia, Walikota Vanesia : yang Teriak Takbir Akan Tembak Ditempat

Reporter : M. Zaki | Jumat, 25 Agustus 2017 - 15:26 WIB

IMG-4653

Luigi Brugnaro, Wali Kota Venesia, Italia. Foto Reuters

kini.co.id – Pasca aksi teror di Barcelona beberapa hari lalu, Luigi Brugnaro, Wali Kota Venesia, Italia, panik atau bisa disebut Islamphobia.

Dengan kebijakan kontroversial terkait dengan komunitas muslim di kotanya, ia memerintahkan para sniper di kotanya untuk segera menembak mati siapa saja yang berani meneriakkan kalimat “Allahu Akbar”.

Brugnaro meminta para sniper tak usah berpikir panjang lagi ketika mendengar kalimat tersebut, agar tidak terlambat oleh aksi para teroris.

Hal itu diungkapnnya saat bertemu sebuah delegasi intelektual baru-baru ini. Belajar dari aksi teror akhir-ahir ini, Brugnaro mengaku tidak mau ambil risiko atau kecolongan sedikitpun dari para pelaku teror.

“Mereka (teroris) mengatakan ‘ingin pergi dan bertemu Allah’, jadi kami akan mengirimkan mereka langsung ke Allah tanpa perlu melempar mereka ke jembatan, yaitu dengan cara menembak mereka,” kata Brugnaro sebagaimana dilansir The Sun pada Rabu (23/8).

Kontan saja kebijakan ini menuai tantangan dari berbagai pihak, bahkan banyak ditertawakan karena dinilai berlebihan. Dalam pertemuan kepala daerah di Italia, kebijakan Brugnaro ini bahkan menjadi bahan ejekan.

Wali Kota Florensia Dario Nardella yang hadir dalam pertemuan tersebut langsung berlari ke arah Brugnaro sambil berteriak “Allahu akbar.” Aksi sindiran ini mengundang tawa kepada daerah yang lain. Tapi setelah itu Nardella segera meminta maaf atas guyonannya tersebut, khawatir menyinggung pihak tertentu di Italia.

Dengan jumlah muslim sebanyak 2,2 juta atau 4 persen dari total populasi di Italia tentu akan menjadi sebuah catatan bahwa Islamphobia eropa atas aksi teror Barcelan tak bisa digeneral bahwa umat Islam adalah teroris.

Sungguh naif, sebuah negara yang mengaku demokrasi jika mengeluarkan kebajakn demikian dan tentu bukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah teror. Kebijakan itu justru mendiskriminasi komunitas muslim di Italia. []

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 13:25 WIB

Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya

Diduga untuk menambah pundi-pundi dalam membiayai aksinya, gerilyawan Taliban mengenakan pajak dengan cara mengancam sejumlah kantor-kantor berita di Afghanistan apabila ...
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...