Kamis, 19 Oktober 2017 | 14.15 WIB
KiniNEWS>Dunia>Finance>Pendapatan Alibaba Kuartal II Capai 50,1 Miliar Yuan

Pendapatan Alibaba Kuartal II Capai 50,1 Miliar Yuan

Jumat, 18 Agustus 2017 - 13:32 WIB

IMG-4645

Alibaba. Marketwatch.

kini.co.id – Raksasa e-commerce asal China mengalahkan perkiraan analis dengan kenaikan pendapatan kuartal keduanya yang cukup fantastis.

Diilansir dari Reuters pada Jumat (18/8), pendapatan Alibaba naik menjadi 50,1 miliar yuan atau US$ 7,51 miliar di kuartal II 2017. Pencapaian itu lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan rata-rata analis sebesar 47,7 miliar yuan.

Dalam bisnis cloud, pendapatan tumbuh sebesar 96% menjadi 2,4 miliar yuan. Pelanggan cloud berbayar menembus angka 1 juta untuk pertama kalinya, naik dari 577.000 di tahun sebelumnya.

Bisnis cloud Alibaba mendorong pusat data global menjadi 17 pada kuartal pertama.

Dengan penambahan dua pusat di India dan Indonesia. Pendapatan di bisnis hiburan naik 30% menjadi 4 miliar yuan.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham perusahaan hampir dua kali lipat menjadi US$ 2,17 miliar atau 83 sen per saham.

Saham perusahaan e-commerce China, termasuk Alibaba.com dan JD.com Inc telah mengungguli pasar pada 2017, didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang positif di sekitar peristiwa penjualan Juni dan ekspansi luar negeri sebesar 56% didorong oleh penjualan online yang kuat.

Chief Executive Alibaba Daniel Zhang juga mengkonfirmasi bahwa perusahaan tengah berinvestasi senilai US$ 1,1 miliar di toko ritel Asia Tenggara Tokopedia, guna menambah perluasan jaringan aset di wilayah tersebut.

Pada bulan Juni, Alibaba menginvestasikan US$ 1 miliar lagi pada platform e-commerce berbasis di Singapura, Lazada Group. Ini juga menargetkan pedagang baru di Rusia dan Amerika Serikat sebagai bagian dari rencana yang lebih luas untuk meningkatkan pendapatan dan menarik pelanggan baru di luar China.

Kabar yang beredar, Alibaba, tertarik mnginvestasikan modal ke toko konvensional. Analis mengatakan ada rencana injeksi dana US$ 2,6 miliar ke dalam rantai department store Intime Retail Group Co Ltd.

“Setidaknya untuk saat ini kami tidak melihat adanya integrasi penuh antara offline dan online (teknologi) dan itu adalah masalah,” kata analis senior Pacific Epoch Steven Zhu.

“Jika Anda tidak memiliki integrasi penuh maka ritel baru tetap merupakan konsep ketimbang kenyataan,” katanya. []

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
2 TKI Terhukum Mati Diselamatkan Negara
Global - Sabtu, 14 Oktober 2017 - 14:37 WIB

2 TKI Terhukum Mati Diselamatkan Negara

Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Muhammad Iqbal mengatakan pemerintah Indonesia telah berhasil membebaskan 1 WNI dari hukuman mati di ...
Protes Soal Rudal, Malaysia Stop Impor Barang dari Korut
Global - Sabtu, 14 Oktober 2017 - 09:53 WIB

Protes Soal Rudal, Malaysia Stop Impor Barang dari Korut

Setelah melarang warganya pergi ke Korea Utara, kini Malaysia mengambil langkah tegas dengan menghentikan semua impor barang dari Korut.Hal ini ...
Pesawat Tempur AS Terbang ke Semenanjung Korea
Global - Rabu, 11 Oktober 2017 - 13:01 WIB

Pesawat Tempur AS Terbang ke Semenanjung Korea

Setelah mengecam Korea Utara terkait percobaan rudal balistiknya, kini AS mulai menerbangkan 2 pesawat tempurnya di Semenanjung Korea.Pesawat bomber B-1B ...
Cuek dengan Sanksi PBB, Korut Bangga dengan Pembangunan Nuklir
Global - Senin, 9 Oktober 2017 - 09:42 WIB

Cuek dengan Sanksi PBB, Korut Bangga dengan Pembangunan Nuklir

Meski dihujat dunia dan diberikan sanksi ketat oleh PBB, Kim Jong Un tampaknya samasekali tak terpengaruh.Alih-alih meredakan aksi uji coba ...
Inggris Buru Anak Osama Bin Laden Dalam Keadaan Hidup Atau Mati
Global - Senin, 2 Oktober 2017 - 13:15 WIB

Inggris Buru Anak Osama Bin Laden Dalam Keadaan Hidup Atau Mati

Hamza Bin Laden, adalah anak bungsu dari Osama Bin Laden pemimpin teroris Al Qaeda yang kini diburu oleh pasukan khusus ...
PBB bantah terima petisi referendum Papua Barat
- Sabtu, 30 September 2017 - 12:53 WIB

PBB bantah terima petisi referendum Papua Barat

Komite Dekolonisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak laporan petisi rahasia yang menuntut referendum bebas untuk kemerdekaan di Papua Barat.Ketua Komite, Rafael ...