Sabtu, 24 Februari 2018 | 00.45 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Saudi Arabia Sebut Tak Ada Tawar Menawar Soal Tuntutannya kepada Qatar

Saudi Arabia Sebut Tak Ada Tawar Menawar Soal Tuntutannya kepada Qatar

Reporter : Fauzan | Rabu, 28 Juni 2017 - 10:43 WIB

IMG-4560

Doha, Qatar (AFP)

Washington, kini.co.id – Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan, tuntutan kerajaan dan negara-negara Arab lainnya agar Qatar berhenti mendukung terorisme, tak bisa ditawar.

Konsekuensinya jika tuntutan tersebut dipenuhi tentu Qatar akan lepas dari pengucilan Negara kawasan teluk jika tidak Qatar nampaknya akan tetap terkucil dari mereka.

Ketika ditanya para wartawan saat berkunjung ke Washington, apakah tuntutannya tidak bisa ditawar, Jubeir mengatakan memastikan hal mutlak. “Ya, kami telah memastikan, kami sudah mengambil langkah-langkah kami dan terserah (pemerintah Dahar) apakah mereka akan mengubah perilaku mereka atau tidak dan jika mereka melakukannya, semuanya akan berjalan tapi jika tidak, mereka akan tetap dikucilkan,” kata Jubeir.

“Jika Qatar ingin kembali ke lingkaran Dewan Kerja Sama Teluk, “mereka (pemerintah Qatar, red) tahu apa yang harus mereka lakukan,” tegasnya.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahran dan Mesir telah menerapkan boikot terhadap Qatar sejak tiga pekan lalu. Negara-negara itu menuding Qatar mendukung kelompok-kelompok garis keras.

Mereka kemudian mengeluarkan ultimatum terhadap Qatar, termasuk menuntut negara itu untuk menutup pangkalan militer Turki di Doha, menutup saluran televisi Al Jazeera serta mengekang hubungan dengan Iran.

Pemerintah Qatar membantah berbagai tuduhan Saudi cs yang diduga dibalik itu ada kepentingan Amerika Serikat dan mengatakan tuntutan-tuntutan itu sejatinya mengendalikan kedaulatan negaranya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di gedung Departemen Luar Negeri pada Selasa depan.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 13:25 WIB

Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya

Diduga untuk menambah pundi-pundi dalam membiayai aksinya, gerilyawan Taliban mengenakan pajak dengan cara mengancam sejumlah kantor-kantor berita di Afghanistan apabila ...
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...