Monday, 23 July 2018 | 04.47 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Terseret Krisis Qatar, Al Jazeera Tegaskan Akan Tetap Independen

Terseret Krisis Qatar, Al Jazeera Tegaskan Akan Tetap Independen

Reporter : Fauzan | Thursday, 8 June 2017 - 22:12 WIB

IMG-4537

Al-Jazeera Media Network (Independent)

Doha, kini.co.id – Al Jazeera Media Network mengaku akan tetap mempertahankan independensi editorialnya meskipun krisis Qatar telah menyeretnya sehingga diboikot Arab Saudi. Media yang berbasis di Doha tersebut menegaskan bahwa tugas mereka adalah melaporkan dan tidak akan ikut campur dalam urusan negara.

“Semua pembicaraan tentang campur tangan Al Jazeera dalam urusan negara lain adalah omong kosong. Kami tidak mengganggu urusan siapa pun. Kami hanya melaporkan,” ungkap Mostefa Souag, Diretur Jenderal Jaringan Penyiaran yang berpusat di Doha, Qatar Kamis (08/06) seperti dikutip Reuters.

“Jika kami membawa narasumber yang menentang pemerintahan tertentu, apakah itu artinya kami menganggu urusan negara? Tidak. Kebijakan editorial Al Jazeera akan terus berlanjut terlepas dari apa yang terjadi saat ini,” sambungnya.

Jaringan media yang didanai oleh Qatar ini ikut terseret dalam perselisihan antara Arab Saudi bersama sejumlah negara lainnya terhadap Qatar. Dimana Arab Saudi memutuskan untuk mencabut izin dan menutup kantor berita itu di negaranya.

Selain itu, Saudi juga menghimbau kepada seluruh warganya yang bekerja di Al Jazeera untuk segera keluar. Keputusan itu datang setelah pemerintah Saudi, UEA, Bahrain, Mesir dan Yaman memutus hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar. Mereka menuduh Qatar mendukung kelompok teroris dan mengancam stabilitas negara-negara Arab.

Al Jazeera pertama kali didirikan di Doha pada tahun 1996 sebagai bagian dari upaya Qatar untuk memperbaiki kekuatan ekonominya menjadi pengaruh politik. Al Jazeera sukses meraup jutaan pemirsa di seluruh dunia dengan menanyangkan debat tanpa sensor yang jarang ditayangkan oleh media-media pada umumnya.

Kendati demikian, Al Jazeera juga memancing curiga di sejumlah negara. Pasalnya, tidak sedikit narasumber atau kelompok tertentu yang ditetapkan sebagai teroris oleh negara barat justru diberi panggung oleh Al Jazeera.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Global - Sunday, 10 December 2017 - 13:11 WIB

Lebih dari ratusan orang luka-luka akibat protes di Palestina

Bulan Sabit Merah Palestina dalam pernyataan tertulisnya menyebutkan sekitar dua ratus lebih warga Palestina terluka dalam protes terbaru di ...
Global - Saturday, 9 December 2017 - 09:25 WIB

Israel Lancarkan Serangan Udara ke Gaza, Puluhan Luka-luka

Setelah keputusan Presiden AS, Donald Trump soal Yerusalem, hububgan Palestina dan Israel semakin buruk.Sejak Jumat (8/12/2017), Israel mulai menggempur Jalur ...
Global - Saturday, 9 December 2017 - 09:04 WIB

DK PBB Kritik Kecam Donald Trump Terkait Yerusalem

Keputusan sepihak Presiden AS Donald Trump yang menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel mendapat kecaman dari PBB.Pasalnya, PBB selama ini mengupayakan ...
Global - Friday, 8 December 2017 - 18:20 WIB

Al- Qaidah serukan pengikutnya berjihad terkait status Yerusalem

Keputusan Pesiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berkeras menyatakan Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, mendapat kecaman bukan cuma organisasi ...
Global - Friday, 8 December 2017 - 13:41 WIB

Lawan Keputusan Trump, Ini yang Dilakukan Pemerintah Indonesia

Gelombang protes terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel datang dari berbagai negara di dunia. ...
Global - Friday, 8 December 2017 - 13:33 WIB

Eropa tolak pengakuan Trump soal status Yerusalem

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal status kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel ditentang banyak pihak. Para pemimpin negara ...
Place your ads here...