Kamis, 19 Oktober 2017 | 19.51 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Terseret Krisis Qatar, Al Jazeera Tegaskan Akan Tetap Independen

Terseret Krisis Qatar, Al Jazeera Tegaskan Akan Tetap Independen

Reporter : Fauzan | Kamis, 8 Juni 2017 - 22:12 WIB

IMG-4537

Al-Jazeera Media Network (Independent)

Doha, kini.co.id – Al Jazeera Media Network mengaku akan tetap mempertahankan independensi editorialnya meskipun krisis Qatar telah menyeretnya sehingga diboikot Arab Saudi. Media yang berbasis di Doha tersebut menegaskan bahwa tugas mereka adalah melaporkan dan tidak akan ikut campur dalam urusan negara.

“Semua pembicaraan tentang campur tangan Al Jazeera dalam urusan negara lain adalah omong kosong. Kami tidak mengganggu urusan siapa pun. Kami hanya melaporkan,” ungkap Mostefa Souag, Diretur Jenderal Jaringan Penyiaran yang berpusat di Doha, Qatar Kamis (08/06) seperti dikutip Reuters.

“Jika kami membawa narasumber yang menentang pemerintahan tertentu, apakah itu artinya kami menganggu urusan negara? Tidak. Kebijakan editorial Al Jazeera akan terus berlanjut terlepas dari apa yang terjadi saat ini,” sambungnya.

Jaringan media yang didanai oleh Qatar ini ikut terseret dalam perselisihan antara Arab Saudi bersama sejumlah negara lainnya terhadap Qatar. Dimana Arab Saudi memutuskan untuk mencabut izin dan menutup kantor berita itu di negaranya.

Selain itu, Saudi juga menghimbau kepada seluruh warganya yang bekerja di Al Jazeera untuk segera keluar. Keputusan itu datang setelah pemerintah Saudi, UEA, Bahrain, Mesir dan Yaman memutus hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar. Mereka menuduh Qatar mendukung kelompok teroris dan mengancam stabilitas negara-negara Arab.

Al Jazeera pertama kali didirikan di Doha pada tahun 1996 sebagai bagian dari upaya Qatar untuk memperbaiki kekuatan ekonominya menjadi pengaruh politik. Al Jazeera sukses meraup jutaan pemirsa di seluruh dunia dengan menanyangkan debat tanpa sensor yang jarang ditayangkan oleh media-media pada umumnya.

Kendati demikian, Al Jazeera juga memancing curiga di sejumlah negara. Pasalnya, tidak sedikit narasumber atau kelompok tertentu yang ditetapkan sebagai teroris oleh negara barat justru diberi panggung oleh Al Jazeera.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
2 TKI Terhukum Mati Diselamatkan Negara
Global - Sabtu, 14 Oktober 2017 - 14:37 WIB

2 TKI Terhukum Mati Diselamatkan Negara

Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Muhammad Iqbal mengatakan pemerintah Indonesia telah berhasil membebaskan 1 WNI dari hukuman mati di ...
Protes Soal Rudal, Malaysia Stop Impor Barang dari Korut
Global - Sabtu, 14 Oktober 2017 - 09:53 WIB

Protes Soal Rudal, Malaysia Stop Impor Barang dari Korut

Setelah melarang warganya pergi ke Korea Utara, kini Malaysia mengambil langkah tegas dengan menghentikan semua impor barang dari Korut.Hal ini ...
Pesawat Tempur AS Terbang ke Semenanjung Korea
Global - Rabu, 11 Oktober 2017 - 13:01 WIB

Pesawat Tempur AS Terbang ke Semenanjung Korea

Setelah mengecam Korea Utara terkait percobaan rudal balistiknya, kini AS mulai menerbangkan 2 pesawat tempurnya di Semenanjung Korea.Pesawat bomber B-1B ...
Cuek dengan Sanksi PBB, Korut Bangga dengan Pembangunan Nuklir
Global - Senin, 9 Oktober 2017 - 09:42 WIB

Cuek dengan Sanksi PBB, Korut Bangga dengan Pembangunan Nuklir

Meski dihujat dunia dan diberikan sanksi ketat oleh PBB, Kim Jong Un tampaknya samasekali tak terpengaruh.Alih-alih meredakan aksi uji coba ...
Inggris Buru Anak Osama Bin Laden Dalam Keadaan Hidup Atau Mati
Global - Senin, 2 Oktober 2017 - 13:15 WIB

Inggris Buru Anak Osama Bin Laden Dalam Keadaan Hidup Atau Mati

Hamza Bin Laden, adalah anak bungsu dari Osama Bin Laden pemimpin teroris Al Qaeda yang kini diburu oleh pasukan khusus ...
PBB bantah terima petisi referendum Papua Barat
- Sabtu, 30 September 2017 - 12:53 WIB

PBB bantah terima petisi referendum Papua Barat

Komite Dekolonisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menolak laporan petisi rahasia yang menuntut referendum bebas untuk kemerdekaan di Papua Barat.Ketua Komite, Rafael ...