Sabtu, 24 Februari 2018 | 00.48 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>Pelaku Bom Manchester Salman Ramadan Abedi

Pelaku Bom Manchester Salman Ramadan Abedi

Reporter : M. Zaki | Rabu, 24 Mei 2017 - 08:54 WIB

IMG-4520

Polisi Inggris mengamankan lokasi bom di Manchester (The Guardian)

Manchester, kini.co.id – Pihak kepolisian Manchester memastikan, Salman Ramadan Abedi (22) merupakan pelaku serangan bom bunuh diri yang menewaskan 22 orang dan melukai 59 lainnya di konser Ariana Grande, Manchester Arena.

Abedi yang diketahui warga keturunan Libya tinggal di Manchester itu sepak terjangnya tidak masuk dalam investigasi polisi yang dianggap tidak berbahaya.

Seperti dikutip The Guardian, latar belakang Abedi mirip dengan pelaku penyerangan di Westminister, Khalid Masood. Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan apakah Abedi bekerja sendiri atau merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas yang membantunya dengan bom tersebut.

Meski ISIS mengaku bertanggung jawab, polisi tidak menemukan bukti untuk mendukung hal itu.

Bahkan sebelum Abedi diberi nama, beberapa anggota komunitas Libya Manchester Selatan bertanya-tanya apakah pembom bunuh diri itu salah satu dari mereka.

Mungkin salah satu pemuda yang telah bertempur di Libya selama revolusi 2011, beberapa di antaranya pulang ke rumah dengan trauma dan kemarahan.

Namun tampaknya tidak ada yang menduga bahwa Abedi yang lahir di Inggris tak pernah ke Libya adalah pelakunya. Terlebih ia adalah seorang pemuda yang taat dan sangat menghormati orangtuanya. Tak bisa dibayangkan pemuda shaleh itu akan menjadi pembunuh massal.

“Salman? Saya merasa tercengang dengan ini, ” kata salah satu anggota komunitas Libya di Manchester kepada Guardian.

“Dia adalah anak yang pendiam, selalu sangat menghormati saya. Saudaranya Ismail keluar, tapi Salman sangat pendiam. Dia seperti orang yang tidak mungkin melakukan ini. ”

Salman dan kakaknya Ismail beribadah di Masjid Didsbury di mana ayah mereka yang dikenal dengan Abu Ismail dianggap sebagai orang terpandang di komunitas Libya ini. Dia adalah muadzin masjid itu. Suara adzan-nya merdu sekali. Anak-anaknya dia ajari membaca Alquran dari hati.

“Abu Ismail pasti hancur hatinya. Dia sangat menentang ideologi jihadi dan menurut dia ISIS bukan jihad, melainkan kriminal. Keluarga ini pasti terpukul sekali,” kata si warga komunitas Libya di Manchester itu.

Abu Ismail Abedi yang bekerja di Manchester berasal dari Tripoli. Dari istrinya, Samia, dia masih memilik seorang anak lelaki lagi bernama Hashem dan seorang anak perempuan, Jomana.

“Tidak mungkin (Salman Abedi] teradikalisasi di Tripoli. Pasti itu terjadi di sini (Manchester). Pasti ada orang yang mempengaruhinya,”

“Tapi apa yang dia lakukan, membunuh semua orang itu? Pasti ada seseorang yang mempengaruhinya. Ini sungguh mengerikan,” ucapnya.

Mohammed Saeed, tokoh senior Masjid Didsbury dan Islamic Center, mengatakan bahwa Salman Abedi menunjukan rasa tidak suka terhadap dirinya setelah dia memberikan sebuah khotbah yang mengkritik ISIS dan Ansar al-Syariah di Libya.

Saeed mengatakan bahwa dia memberikan khotbah agar melawan terorisme dan tentang kesucian hidup pada tahun 2015.

“Salman menunjukkan tak suka setelah khotbah itu,” katanya.

Seperti diketahui, Masjid Didsbury, merupakan berkumpulnya umat Islam moderat dari Arabia, Afrika, Asia dan Eropa. Masjid itu baru-baru ini membimbing non muslim yang baru masuk Islam dan mengadakan menggelar bimbingan seminggu sekali untuk non-Muslim untuk belajar lebih banyak tentang masjid tersebut.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 13:25 WIB

Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya

Diduga untuk menambah pundi-pundi dalam membiayai aksinya, gerilyawan Taliban mengenakan pajak dengan cara mengancam sejumlah kantor-kantor berita di Afghanistan apabila ...
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...