Sabtu, 24 Februari 2018 | 00.50 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>Kontroversi Nasi Lemak Gay, Ini Pengakuan Pemilik Warung

Kontroversi Nasi Lemak Gay, Ini Pengakuan Pemilik Warung

Reporter : Ary Syahputra | Sabtu, 1 April 2017 - 11:55 WIB

IMG-4503

Nasi lemak gay. (Ist)

Kuala Lumpur, kini.co.id – Nasi lemak atau nasi uduk gay di Malaysia menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat.

Merk dagang yang digunakan si pemilik warung dinilai mengampanyekan isu LGBT lewat makanannya.

Tak sedikit pula yang menjadi ragu memakan nasi lemak itu dikarenakan mereka malah takut menjadi gay.

Lalu apa kata pemilik warung Nasi Lemak Gay itu?

Adi Yusuf si pemilik warung justru membuat pengakuan yang mengejutkan mengenai dagangannya itu.

(Baca juga: Nasi Lemak Gay Bikin Netter Marah)

Ia malah mengatakan Nasi Lemak Gay itu bukan untuk mendukung homoseksual samasekali.

“Masyarakat begitu cepat mengambil kesimpulan. Kata Gay ini tidak mereferensikan homoseksual, tapi merupakan akronim dari nama toko saya Gerai Adi Yusuf,” ucapnya dikutip dari The Star, Jumat (31/3/2017).

Pria 33 tahun itu mengatakan warung nasinya sudah dibuka sejak akhir Januari lalu. Namun, banner bertuliskan nasi lemak gay baru ia pasang pada Selasa lalu.

Adi mengatakan, dia mendapat pesan dari beberapa orang teman dan orang yang tidak dikenal terkait dukungan terkait nasi lemak gay. Namun, beberapa pesan lain menunjukkan kebenciannya.

Ia awalnya menyangka tak ada yang salah dengan merk dagangnya itu seperti halnya ada nasi lemak pondan (bencong) dan nasi lemak dara (perawan).

Namun untuk meredam kontroversi yang ada, ia memutuskan untuk menutup warungnya. Ia pun belum tahu apakah akan meneruskan warungnya tanpa label ataukah berhenti dan bekerja di restoran saja.

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 13:25 WIB

Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya

Diduga untuk menambah pundi-pundi dalam membiayai aksinya, gerilyawan Taliban mengenakan pajak dengan cara mengancam sejumlah kantor-kantor berita di Afghanistan apabila ...
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...