Kamis, 17 Januari 2019 | 01.33 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>Geram, Kelompok Penyihir AS Kompak Mantrai Trump

Geram, Kelompok Penyihir AS Kompak Mantrai Trump

Reporter : Bambang Medy | Senin, 27 Februari 2017 - 15:11 WIB

IMG-4410

Ilustrasi

New York, kini.co.id – Karena tidak suka akan kebijakannya yang baru, belasan orang dari kelompok penyihir Amerika Serikat (AS) berkumpul untuk memantrai Presiden Donald Trump.

Dikutip dari Tempo yang melansir BuzzFeed News, Senin (27/2/2017), kelompok penyihir yang dipimpin Michael Hughes itu berkumpul untuk memantrai Trump agar tidak berlebihan dalam melakukan tugasnya.

Selain belasan orang yang berada di depan Menara Trump di New York, acara yang dilakukan Sabtu (25/2/2017) dini hari waktu setempat tersebut juga diikuti oleh ribuan penyihir lainnya dari penjuru AS melalui akun Facebook.

Para penyihir tersebut diperintahkan untuk mengukir nama Trump di sebatang lilin, melantukan mantra dan kemudian membakar foto pria berusia 70 tahun itu sambil berseru: “Kamu dipecat!”.

“Kami tidak menginginkan hal berbahaya bagi siapa pun,” ungkap Kat, salah satu penyihir aliran sihir putih, Wiccan, di Amerika Serikat.

Hal tersebut disetujui MaryPat Azevedo yang mengikuti ritual ini dari Arizona dengan menyebut aksi ini sebagai doa bersama.

“Seorang penyihir tidak pernah memantrai seseorang tanpa izin. Kali ini kami melakukan doa untuk kesejahteraan bersama. Saya berharap mantra ini dapat mengubah emosi, spiritual dan fisik Donald Trump serta politik Amerika,” ungkap Azevedo.

Namun, tentu saja aksi mendapat kecaman dari beberapa kalangan, terutama pendukung Trump. Salah satunya ada kelompok Kristen konservatif, di mana salah seorang anggotanya, Donna, turut serta ke dalam aksi tersebut untuk menghalangi aksi para penyihir tersebut.

Ia memegang cermin tinggi-tinggi dan diarahkan kepada para penyihir, untuk “mengembalikan mantra kepada mereka sendiri.”

“Mereka sangat kejam. Saya ingin melindungi Donald Trump dari kejahatan mereka,” pungkas Donna.

Selain Donna, juga ada pendeta karismatis, Joshua Feuerstein, yang juga mengecam aksi tersebut. Melalui lamannya, ia menegaskan mantra para penyihir tidak akan bisa melawan perlindungan Tuhan terhadap Trump.

Walaupu begitu, para penyihir tersebut tidak mengacuhkan ancama tersebut dan berencana akan berkumpul lagi pada malam bulan sabit pada 26 Maret mendatang untuk menggelar aksi lanjutan. Mereka bersumpah akan terus melakukan aksi ini hingga Trump meninggalkan Gedung Putih.

Editor: Fetty Putri

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Peristiwa - Jumat, 11 Januari 2019 - 13:43 WIB

Meninggalkan Dunia Entertain, Kini Meghan Markle Siap Kembali Berakting

Menjadi istri pangeran kerajaan membuat Meghan Markle berkomitmen melepaskan segala keartisannya termasuk berhenti syuting dan menghapus Instagram miliknya.Hal itu karena ...
Politik - Kamis, 10 Januari 2019 - 15:00 WIB

Tiga WN Malaysia ditangkap karena hina mantan Raja

DUA laki-laki dan seorang perempuan ditangkap otoritas Malaysia dengan dugaan menghina mantan Raja Malaysia, Sultan Muhammad V dari Kelantan, sehubungan ...
Global - Selasa, 8 Januari 2019 - 10:14 WIB

Trump Tarik Pasukan, Erdogan Sebut Turki Akan Gantikan AS di Suriah

Presiden AS, Donald Trump berencana menarik pasukannya dari Suriah. Hal itu dilakukan karena AS mengklaim, ISIS telah dimusnahkan, sehingga AS ...
Peristiwa - Selasa, 8 Januari 2019 - 10:00 WIB

Nasib Gembong Pornografi Anak, Tewas Dikeroyok Napi dalam Penjara

Seorang gembong pornografi anak, Christian Maire menjadi narapidana didi Lembaga Permasyarakatan Milan di Michigan.Belum lama ini ia dikabarkan tewas dikeroyok ...
Politik - Senin, 7 Januari 2019 - 20:25 WIB

Khawatir dibunuh, perempuan Saudi mengurung diri di Thailand

SEORANG perempuan asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, ditahan di Thailand ketika berencana lari ke Australia untuk meminta suaka. Dia ...
Peristiwa - Senin, 7 Januari 2019 - 10:56 WIB

Sebelum Mundur, Raja Malaysia Nikahi Mantan Miss Moscow

Muhammad Sultan V mendadak menanggalkan jabatannya sebagai Raja Malaysia. Ini merupakan yang pertama kali dalam sejarah. Sebab, sebelumnya tidak ada ...