Jumat, 22 September 2017 | 13.19 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Ramai-Ramai Tolak Kebijakan Anti-Imigran Trump

Ramai-Ramai Tolak Kebijakan Anti-Imigran Trump

Reporter : Ary Syahputra | Senin, 30 Januari 2017 - 10:48 WIB

IMG-4285

(Reuter/Antara)

Jakarta, kini.co.id – Kebijakan anti-imigran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump diprotes sejumlah negara, mereka ramai-ramai menyuarakan penolakan kebijakan yang dianggap diksriminasi tersebut.

Duta Besar Swiss untuk Teheran, Guilio Haas pada Ahad (29/1) dipanggil pihak Pemerintah Iran untuk memprotes keputusan diskriminatif yang membatasi kedatangan warga dari tujuh negara Muslim, termasuk Iran, demikian laporan Press TV.

Mohammad Kashavarz-Zadeh, Direktur Jenderal Urusan Amerika di Kementrian Luar Negeri Iran, secara resmi melayangkan surat protes resmi kepada Haas yang mewakili kepentingan di Teheran, kata Juru Bicara Kementerian Luar Iran, Bahram Qasemi.

Tak hanya Iran, Menteri Luar Prancis Jean-Marc Ayrault, mengatakan salah satu kewajiban negara adalah menerima pengungsi, sehingga ketakutan terhadap terorisme bukan alasan tepat untuk menolak menampung mereka.

“Tugas negara dalam menjaga kesetiakawanan adalah menerima pengungsi,” kata Ayrault dalam akun Twitter resminya.

“Terorisme tidak mengenal kewarganegaraan dan diskriminasi bukan langkah tepat mengatasi masalah itu,” tambahnya.

Presiden Prancis Francois Hollande , pada Sabtu berbicara langsung ke Trump lewat telepon, ia menyarankan Presiden AS itu menghormati pengungsi.

Hollande juga mengingatkan Trump bahwa kebijakan proteksionismenya memiliki dampak ekonomi dan politik.

Penolakan juga datang tak hanya sejumlah negara, sejumlah kalangan masyaraka biasa, pengusaha dan artis juga turut menyuarakan penolakan tersebut.

Pesohor Jennifer Lopez dalam akun instagramnya menganggap kebijakan Trump, adalah mimpi buruk bagi pada sejumlah imigran yang kini menetap di AS.

“Jujur aku merasa seperti berada dalam mimpi buruk sekarang !! Di sebuah negara yang didirikan oleh imigran, yang mana kini imigran menjadi sebuah kata yang dianggap buruk,” tulis Jlo di akun istagramnya.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg dalam tulisan di akun Facebooknya, mengaku prihatin atas kebijakan Trump yang dinilai akan menimbulkan gejolak.

“Amerika adalah bangsa imigran, dan kita harus bangga akan itu,” kata Zuckerberg, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, pemerintahan Trump harusnya fokus meredam pergolakan yang terjadi di internasional.

“Kita harus tetap membuka pintu untuk para pengungsi dan mereka yang butuh pertolongan. Itulah jati diri kita,” tambahnya. Zuckerberg adalah satu-satunya pemimpin industri teknologi digital yang tegas menolak kebijakan Trump setelah menjabat Presiden.

Diketahui, Presiden AS Donal Trump pada Jumat (27/1) menandatangani perintah eksekutif untuk membatasi imigrasi dari negara yang ia katakan “dinodai oleh terorisme”.

Kebijakan tersebut antara lain melarang masuknya warga tujuh negara berpenduduk mayoritas umat Islam ke Amerika Serikat, berdampak juga bagi warga AS yang beragama Islam.

Benyamin Rasyad, muslim asal Indonesia yang sudah menjadi warga negara Amerika Serikat, mengaku khawatir setelah larangan kedatangan imigran warga Islam oleh Trump tersebut.

“Saya beragama Islam, keluarga saya juga beragama Islam, jadi kita agak khawatir. Khususnya di Texas kan orang-orang ini tidak tahu apa Islam itu. Ada yang sama sekali tidak tahu apa-apa tapi sudah kena influence (pengaruh),” dikutip dari Antara.

Benyamin bersama keluarganya saat ini menetap di Houston, negara bagian Texas yang didominasi pendukung Partai Republik, partai yang mengantarkan dari Donald Trump duduk sebagai Presiden AS.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Tenda bantuan Indonesia untuk muslim Rohingya berdiri di Bangladesh
Peristiwa - Jumat, 22 September 2017 - 00:06 WIB

Tenda bantuan Indonesia untuk muslim Rohingya berdiri di Bangladesh

Sebagian pengungsi muslim Rohingya di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh akhirnya bisa mengakses tenda bantuan dari pemerintah Indonesia, Kamis (21/9)."Hari ini ...
421 Ribu Rohingya Mengungsi, PBB Akhirnya Temukan Pelanggaran HAM
Global - Rabu, 20 September 2017 - 12:02 WIB

421 Ribu Rohingya Mengungsi, PBB Akhirnya Temukan Pelanggaran HAM

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dinilai tidak tegas terhadap Myanmar yang telah melakukan pembantaian terhadap ribuan orang yang merupakan etnis Rohingya ...
Raja Arab Kirim USD 15 Juta Bantuan untuk Rohingya
Peristiwa - Rabu, 20 September 2017 - 11:41 WIB

Raja Arab Kirim USD 15 Juta Bantuan untuk Rohingya

Tragedi pembantaian Rohingya di oleh pemerintah Myanmar membuat dunia berduka. Demikian pula Arab Saudi yang merupakan negara dengan mayoritas muslim.Sang ...
Sanksi Diperberat, Korut Makin Menjadi
Global - Selasa, 19 September 2017 - 14:54 WIB

Sanksi Diperberat, Korut Makin Menjadi

Dikecam, ditegur, hingga diberi sanksi ternyata samasekali tak menghentikan aksi Korea Utara (Korut) untuk tetap melakukan program nuklirnya.Dengan bangga, Korut ...
Bantuan Indonesia Tiba di Camp Pengungsi Rohingya Bangladesh
Global - Selasa, 19 September 2017 - 09:27 WIB

Bantuan Indonesia Tiba di Camp Pengungsi Rohingya Bangladesh

Meski dicibir di Tanah Air, bantuan Indonesia nyatanya telah sampai di camp pengungsi Rohingya di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh, Senin ...
Yahudi Pesta dan Berjoged di Masjid Nabi Ibrahim
Global - Senin, 18 September 2017 - 17:31 WIB

Yahudi Pesta dan Berjoged di Masjid Nabi Ibrahim

Dulunya merupakan tempat sakral dan tempat ibadah bagi umat Islam, kini Masjid Ibrahim berubah menjadi tempat pesta para Yahudi di ...