Jumat, 22 September 2017 | 13.07 WIB
KiniNEWS>Dunia>Global>Garis Kepentingan di Tanah Allepo

Garis Kepentingan di Tanah Allepo

Kamis, 29 Desember 2016 - 13:32 WIB

IMG-4217

Suasana di Aleppo (kininews/ist)

Aligarh, kini.co.id – Alleppo adalah sebuah kota yang berada di Timur Tengah tepatnya di negara Suriah. Seiring dengan berjalannya roda kekuasaan, beberapa kepentingan politik yang melibatkan berbagai negara–negara yang berpengaruh di dunia telah terbentur. Fluktuasinya kondisi Suriah yang memiliki konflik pada awal 2011 sampai dengan saat ini, belum ada tanda-tanda yang merupakan titik terang yang mengarah kepada rekonsiliasi.

Namun di awal tahun 2016, terjadi pergeseran kekuasaan yang lebih dominan dibawah kontrol pemerintah Suriah setelah lima tahun dikuasai oleh berbagai kelompok radikal. Pemetaan potensi kelompok itu sendiri terdiri dari beberapa kelompok dengan wilayah kekuasaan masing–masing. Mulai dari pemerintah Suriah, Demokratik Suriah, negara islam Irak dan Syam, Jabhat Al-Nusra dan oposisi Suriah.

Mesin-mesin propaganda imperium bereaksi dengan gencar. Secara serempak, mereka memproduksi dan menyebarkan berita yang menggambarkan bahwa tentara Suriah melakukan pembantaian massal di kota itu. Para pejabat barat dan PBB mengeluarkan pernyataan untuk mendiskreditkan pemerintah Suriah.

Beberapa aktivis media sosial yang selama ini memang sudah punya rekaman mengenai jejak propokatif yang kemudian disiarkan ulang oleh media-media lain.

Sebagai mahasiswa Ilmu Politik di salah satu perguruan tinggi di India. Saya mempunyai pandangan tersendiri tentang asumsi terkini yang diberitakan beberapa media tentang Save Aleppo dan juga tentang pembantaian Islam sunni di Suriah oleh rezim yang dibawah kepemimpinan Bashar Assad. Dari asumsi tersebut, banyak orang yang bukan hanya menuntut bahkan sampai mengutuk atas pemberitaan tersebut. Tetapi menurut saya, ada dua aspek utama dalam isu yang berkembang di Suriah saat ini yaitu:

A.Peran Bashar Assad di Suriah Sebagai Aktor Penghubung Gerakan Pembebasan Palestina Sangat Dominan

Hegemoni Amerika di timur tengah menunjukkan eksistensinya dengan mengivansi Irak di tahun 2003 serta Libya tahun 2010, siklus tersebut terus berlanjut dengan kemasan perang yang berbeda, negara Suriah sendiri menjadi target selanjutnya karena dianggap sebagai negara penghalang arus kepentingan Amerika dan sekutunya Israel. Realita pada saat ini, rentetan perang dalam poros siklus Amerika telah sampai di negara Suriah, kita sendiri bertanya mengapa harus Suriah? Apa tidak ada negara lain yang ingin diluluhlantahkan lagi, seperti Uni-Emirat Arab, Qatar, Oman, Bahrain ataupun negara timur tengah lainnya.

Seberapa kuat posisi Suriah di timur tengah? Padahal mulai dari tahun 2011 sampai detik ini Suriah masih terus di gempur. Apakah Suriah itu kaya akan minyak atau karena Assad itu punya pengaruh besar di dunia internasional sehingga diperebutkan beberapa negara? sehingga banyak negara yang ikut andil mengambil bagian dalam perang tersebut, ada yang berusaha melengserkan titah Assad, ada juga yang kuat mempertahankan titah Assad.

Salah satu alasan historis yang mungkin menjadi rentetan masalah adalah keterkaitan Amerika dan sekutunya Israel terus mengakomodasi perang di suriah dikarenakan Suriah adalah negara satu-satunya di Asia Barat yang belum berdamai dengan Israel, mulai dari tahun 1948, 1967 dan 1973 bersama Mesir dan Irak, Suriah menyerang Israel. Tahun 1979 Mesir berdamai dengan Israel namun tidak dengan Suriah yang tetap melawan Israel.

Pada perang Lebanon tahun 1982 saat Israel menyerang PLO (Palestina Liberation Organization) atau Organisasi kemerdekaan Palestina, Suriah memberikan bantuan dana dan senjata bagi Hizbullah dan Hamas melawan Israel. Hal ini yang membuat Israel marah sehingga Suriah menjadi salah satu musuh utama yang mengancam garis kepentingan Israel.

Tidak hanya sampai disitu pada konferensi Doha pada tahun 2009, Bassar Assad mengajak negara – negara Arab untuk memutuskan hubungan bilateral dengan negara Barat khususnya Israel. Setelah konferensi tersebut, embrio konflik mulai muncul dan peranannya dimainkan oleh Amerika dan Sekutu Israel, konflik vertikal pun pecah di tanah Suriah, Konflik tersebut terjadi di tahun 2011, aktor yang memainkan peran tersebut tidak terlepas dari negara–negara yang mempunyai kepentingan, seperti Amerika dan sekutunya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Hamas, Suriah, Lebanon dan juga Iran mempunyai hubungan yang sangat erat. Terutama setelah negeri Mullah ini berkeinginan kuat untuk memproduksi nuklir. Hal ini bagaikan mimpi buruk untuk kondisi Israel yang begitu dekat dengan Suriah. Karena pemasok makanan dan senjata ke Hamas melalui Suriah, sehingga Suriah bisa menghadapi konflik yang terjadi pastinya akan membuat posisi Israel di Palestina semakin buruk. Inilah akhir dan tujuan para aktor Amerika dan Israel dibalik layar untuk menghancurkan Iran dan sekutunya, salah satunya Suriah. Sehingga peran Assad di Suriah sangat penting dalam pelepasan tanah Palestina dari tangan Israel.

B. Untuk Mengisolasi Iran

Sejak revolusi Islam Syiah yang dipimpin oleh Khomaini di tahun 1979, Iran berhasil mengelola semua situasi yang merugikan, sehingga pertumbuhan kekuatan dan pengaruhnya di kawasan Asia Barat merupakan petunjuk yang nyata serta memiliki kehadiran yang sangat sigifikan terhadap Lebanon, Suriah dan Rusia dalam konflik yang sedang berlangsung di Suriah. Hal ini benar-benar mengubah dinamika politik di Timur Tengah dan itu adalah suatu refleksi dari pemikiran stragetis yang mendalam dan perencanaan yang sangat terarah.

Tidak ada keraguan bahwa Asia Barat telah menjadi wilayah yang paling terganggu di dunia selama beberapa dekade terakhir. Konflik yang kita lihat hari ini di wilayah tersebut mulai dari masalah Israel-Palestina dalam hal perebutan negara dan antar etnis Syiah dan Sunni, Kurdi dan Turki, dan fenomena baru Islamisasi kekerasan yang diwakili oleh organisasi seperti Al Qaeda dan ISIS.

Keterlibatan mendalam dari penjajah dan Amerika Serikat, Rusia dan negara-negara besar lainnya tidak bisa dipungkiri. Iran telah memahami sifat dari masalah di wilayah tersebut serta telah menyadari bahwa pilihannya adalah antara bersatu atau binasa. Jadi, meskipun segala rintangan serta campur tangan dalam zona konflik Suriah, Yaman, Irak, Bahrain, Lebanon, dan lainnya tetap di wilayah ini.

Keterlibatan Iran telah mengubah ayunan konflik dalam mendukung Assad di Suriah, mulai dari dukungan terus-menerus untuk rezim Syiah di irak, partisipasi terbuka dalam mendukung Houthi di Yaman, dan hubungan panjang dengan Hizbullah di Lebanon membuat jelas niat Iran. Oleh karena itu, dasar utama dalam permainan ini adalah untuk menghancurkan Bashar Assad sebagai penyalur dana dan senjata ke Palestina dan juga untuk mengisolasi Iran karena pengaruhnya yang begitu signifikan di Timur Tengah.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran Bashar Assad dalam pemulihan konflik Suriah sangat vital. Begitu juga peranan Iran sebagai negara pendukung utama dalam pembebasan Palestina. Hal ini di ibaratkan seperti mata uang yang tidak terpisah antara satu dengan yang lain.

Pada akhirnya, Palestina tidak pernah diakui oleh dunia tentang kedaulatannya. Dan untuk mempermudah keinginan mereka, Amerika harus meluluhlatahkan Basshar Asad dan seluruh pendukung kemerdekaan Palestina terlebih dahulu. Sehingga apabila Assad jatuh, maka tidak akan ada yang mampu membantu Palestina selamanya. Hal ini dikarenakan jalur pemasokkan senjata dan makanan hanya tertinggal satu pintu yaitu dari Suriah. Maka Israel semakin aman keberadaanya di tanah Palestina.

Inilah akhir tujuan dari konflik yang didalangi oleh Amerika dan Israel dengan tmemainkan peran tidak secara langsung dengan sekutu mereka yang dipimpin oleh Arab Saudi. Tetapi sangat disayangkan sekali, ternyata banyak media-media yang memberitakan bahwa yang terjadi di Suriah adalah konflik sektarien yang membenturkan Sunni dengan Syiah yang dipimpin oleh rezim Assad yang berkoalisi dengan Rusia dan dipengaruhi oleh dukungan Syiah, Iran dan Hizbullah Lebanon.

Padahal itu hanyalah bagian terkecil yang terjadi. Saat ini Isu-isu tersebut sudah terlanjur meresap kedalam pola fikir nasyarakat. Kita bisa mengingat kembali peristiwa invasi negeri 1001 malam pada tahun 2003 yang mana Amerika Serikat secara terang-terangan menyatakan bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah massal. Atas alasan itu, Amerika Serikat dan juga sekutunya menggempur Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein. Tapi pada tahun 2011 dari mulut pemimpin Amerika Serikat sendiri muncul pengakuan tidak ada senjata pemusnah massal di Irak.

Penulis: Raegen Harahap

Mahasiswa Ilmu Politik/Hubungan Internasional Aligarh Muslim University, India

Editor: Fatimah

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Tenda bantuan Indonesia untuk muslim Rohingya berdiri di Bangladesh
Peristiwa - Jumat, 22 September 2017 - 00:06 WIB

Tenda bantuan Indonesia untuk muslim Rohingya berdiri di Bangladesh

Sebagian pengungsi muslim Rohingya di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh akhirnya bisa mengakses tenda bantuan dari pemerintah Indonesia, Kamis (21/9)."Hari ini ...
421 Ribu Rohingya Mengungsi, PBB Akhirnya Temukan Pelanggaran HAM
Global - Rabu, 20 September 2017 - 12:02 WIB

421 Ribu Rohingya Mengungsi, PBB Akhirnya Temukan Pelanggaran HAM

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dinilai tidak tegas terhadap Myanmar yang telah melakukan pembantaian terhadap ribuan orang yang merupakan etnis Rohingya ...
Raja Arab Kirim USD 15 Juta Bantuan untuk Rohingya
Peristiwa - Rabu, 20 September 2017 - 11:41 WIB

Raja Arab Kirim USD 15 Juta Bantuan untuk Rohingya

Tragedi pembantaian Rohingya di oleh pemerintah Myanmar membuat dunia berduka. Demikian pula Arab Saudi yang merupakan negara dengan mayoritas muslim.Sang ...
Sanksi Diperberat, Korut Makin Menjadi
Global - Selasa, 19 September 2017 - 14:54 WIB

Sanksi Diperberat, Korut Makin Menjadi

Dikecam, ditegur, hingga diberi sanksi ternyata samasekali tak menghentikan aksi Korea Utara (Korut) untuk tetap melakukan program nuklirnya.Dengan bangga, Korut ...
Bantuan Indonesia Tiba di Camp Pengungsi Rohingya Bangladesh
Global - Selasa, 19 September 2017 - 09:27 WIB

Bantuan Indonesia Tiba di Camp Pengungsi Rohingya Bangladesh

Meski dicibir di Tanah Air, bantuan Indonesia nyatanya telah sampai di camp pengungsi Rohingya di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh, Senin ...
Yahudi Pesta dan Berjoged di Masjid Nabi Ibrahim
Global - Senin, 18 September 2017 - 17:31 WIB

Yahudi Pesta dan Berjoged di Masjid Nabi Ibrahim

Dulunya merupakan tempat sakral dan tempat ibadah bagi umat Islam, kini Masjid Ibrahim berubah menjadi tempat pesta para Yahudi di ...