Kamis, 22 Februari 2018 | 17.47 WIB
KiniNEWS>Dunia>Peristiwa>Pelaku Penembak Dubes Rusia itu Ternyata Mantan Polisi Turki

Pelaku Penembak Dubes Rusia itu Ternyata Mantan Polisi Turki

Reporter : Bambang Medy | Selasa, 20 Desember 2016 - 22:24 WIB

IMG-4166

Mevlut Mert Altintas, pelaku penembakan Duta Besar untuk Turki, Andrey Karlov (Kininews/Tass)

Ankara, kini.co.id – Mevlut Mert Altintas, pelaku penembakan Duta Besar untuk Turki, Andrey Karlov diketahui pernah berdinas di kepolisian Turki yang dipecat lantaran peristiwa kudeta gagal pada pada 15 Juli 2016 lalu.

Pria yang masih berusia 22 tahun itu, menembak Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov yang sedang menyampaikan sambutan pembukaan pameran di sebuah galeri di Ankara, Senin (19/12).

Altintas menembakan 8 peluru dari pistolnya ke tubuh Karlov yang sedang berada di podium.

Pelaku sempat meneriakkan, “Rusia akan menghadapi aksi balas dendam untuk Suriah,” demikian dikutip dari Tass, Selasa (20/12).

Seperti dikabarkan situs media lokal, Yeni Safak, pelaku pernah bergabung dalam pasukan anti huru-hara di Ankara. Altintas diduga terkait dengan organisasi FETO yang dikaitkan dengan Fethullah Gulen.

Pelaku yang kemudian tewas di tangan aparat di lokasi kejadian itu diduga masuk ke galeri dengan menyamar sebagai polisi dan menggunakan identitas palsu.

Identitas pelaku diperkuat pernyataan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu yang mengatakan, pria itu pernah bekerja dalam kesatuan polisi anti huru-hara selama 2,5 tahun.

Saat ini aparat Turki dilaporkan menahan ibu, saudari, dan teman sekamar Altintas untuk menjalani pemeriksaan secara intensif.

Aksi Altintas yang menjadi pembicaraan seluruh dunia itu diabadikan dalam video dan foto yang diambil dari lokasi kejadian.

Dalam video yang beredar di media sosial, pelaku penembakan terdengar meneriakkan sejumlah kalimat, di antaranya, “Jangan lupakan Aleppo! Jangan lupakan Suriah!”

Pelaku juga sempat memerintahkan orang-orang yang ada di galeri untuk mundur, sembari mengacungkan senjata pistol semi automaticnya.

“Hanya kematian yang bisa membuatku pergi dari sini. Semua orang yang ambil bagian dalam penindasan suatu saat akan membayar perbuatannya,” teriaknya.

Insiden penembakan tersebut terjadi sehari sebelum para diplomat dari Turki, Iran, dan Rusia dijadwalkan bertemu di Moskow untuk mendiskusikan situasi di Aleppo.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Dunia Terkini Lainnya
Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya
Peristiwa - Kamis, 22 Februari 2018 - 13:25 WIB

Gerilyawan Taliban palak kantor media untuk biayai aksinya

Diduga untuk menambah pundi-pundi dalam membiayai aksinya, gerilyawan Taliban mengenakan pajak dengan cara mengancam sejumlah kantor-kantor berita di Afghanistan apabila ...
Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina
Peristiwa - Selasa, 20 Februari 2018 - 21:04 WIB

Setelah Marawi, Daes berpotensi rebut kota lain di Filipina

Pentolan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim mensinyalir Daes sebutan lain bagi kelompok militan Islamic State (ISIS) yang bercokol ...
900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya
Global - Selasa, 20 Februari 2018 - 09:19 WIB

900 Gerai KFC di Inggris Tutup, Ini Penyebabnya

Sebanyak 900 gerai KFC di Inggris terpaksa tutup untuk sementara.Hal itu karena mereka kekurangan bahan utama dari makanan cepat saji ...
AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 14:58 WIB

AS Siapkan Dana 3,3 Miliar Dolar untuk Militer Israel

Amerika Serikat menyiapkan dana USD3,3 miliar atau senilai Rp45 triliun untuk militer Israel.Hal itu diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ...
Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul
Global - Selasa, 13 Februari 2018 - 09:32 WIB

Usai Olimpiade, Kim Jong Un Ingin Dialog Hangat dengan Seoul

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara telah lama dingin. Bahkan Korut terprovokasi meluncurkan rudal percobaan karena Amerika Serikat menggelar latihan ...
Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili
Global - Senin, 12 Februari 2018 - 08:26 WIB

Siksa dan Bunuh Warga Rohingya, Pasukan Keamanan Myanmar Diadili

Anggota pasukan keamanan Myanmar terbukti telah menyiksa dan menghilangkan nyawa 10 orang warga Rohingnya di Rakhine.Mereka kini akan menghadapi tindakan ...